Misteri “Multiverse of Madness” dalam Kosmologi Wayang

Tabik Rencang Majasoka (Salam Kawan Majasoka),
sudah nonton film “Doctor Strange in the Multiverse of Madness”?

Di sana kita lihat konsep Multiverse of Madness mengacu pada rusaknya tatanan Ruang, Waktu yang berakibat terkoyaknya Dimensi (jamak) yang disebut dengan Multiverse.

Sejak awal science mencuat dahulu kala, selalu muncul pertanyaan yg sama.

“Lebih dulu mana, ruang atau waktu?”.

Dalam sebuah artikel di BBC ScienceFocus, Einstein mengatakan bahwa ruang dan waktu tidak lahir bersamaan. Keduanya secara berkesinambungan lahir dan saling mengisi, untuk siapa yang lebih dahulu ada, masih debatable.

Pada saat ilmuwan barat memiliki banyak pandangan apa dan siapa yg lebih dahulu ada. Melalui wayang, para pujangga terdahulu secara simbolik menggambarkan terciptanya Ruang dan Waktu, dalam wujud Dewi Uma (Ruang) dan Betara Kala (Waktu).

Sama seperti para ilmuwan, para pujangga juga bersilang pendapat.

Apakah Ruang dan Waktu itu “incest”?.
Perkawinan ibu dan anak yang membentuk Dimensi??

Saya coba ceritakan satu persatu terlebih dahulu tentang Dewi Uma dan Betara Kala, dan kenapa mereka memang seyogyanya ditakdirkan bersatu.

ORIGIN DEWI UMA

Sumber: nguri-uri12.blogspot.jp

Untuk origin Dewi Uma ini saya akan menggabungkan 2 versi, antara versi India dan Jawa.

Perang ratusan tahun antara pasukan Para Dewa dan Asura berakhir dengan kekalahan para dewata, sehingga pimpinan Asura yaitu Mahisa mengangkat dirinya menjadi raja.

Kekalahan tersebut dilaporkan Kepada Wisnu dan Syiwa, hal itu juga mengakibatkan Brahma harus take over tampuk kepemimpinan dari Dewa Indra.

Kekalahan tersebut membuat Trimurti ( Brahma, Syiwa dan Wisnu) marah sekali, kemarahan yang membuncah membuat ledakan energi yg sangat besar dari diri Siwa dan Wisnu.

Ledakan energi tersebut sangat besar, atau ilmuwan barat menyebutnya dengan nama

BIG BANG!

Sumber: nbcnews.com

Tetapi di balik dari terang benderang cahaya akibat ledakan tersebut lahirlah sebuah bayangan yang tak berbentuk. Bayangan tersebut keluar dan menggantung terombang ambing di angkasa untuk beberapa waktu,

Bayangan tersebut bukanlah bagian dari kegelapan, karena bayangan tersebut adalah bagian dari cahaya.

Oleh Sang Hyang Manikmaya bayangan tersebut ditangkap, singkat cerita para dewa membentuk bayangan tersebut menjadi sebuah entitas yaitu Dewi Uma.

Itulah cerita asal usul “Ruang”.

Tentu ceritanya sangat saya sederhanakan agar mudah dipahami.

Nah, sebelum menginjak ke terciptanya “waktu” atau KALA, kita perlu berpikir sejenak…

Berarti dalam kosmologi jawa, para leluhur sudah memahami konsep adanya chaos (kekacauan) sebelum terjadinya BIGBANG. Sedikit banyak hampir sama dengan teori para ahli tentang bertabrakannya materi dan energi yang memampat sangat kecil, dan akhirnya meledak menjadi penciptaan ruang.

Kejadian ini digambarkan melalui imajinasi berwujud karakter-karakter kedewataan.

Kamu bisa baca misteri sebelum BIG BANG di sini.

ORIGIN BETARA KALA

Sumber: wikimedia.org

Cerita ini sudah sangat mahsyur dan awam dikalangan para pecinta wayang.
Pada saat Betara Guru dan Istrinya Dewi Uma melayang-melayang untuk melihat dunia diatas kerbau Andini,

Tidak sengaja selendang yang menutupi betis Dewi Uma tersingkap sehingga tampaklah kemolekan Tubuh sang Dewi.

Betara Guru yang tanpa sengaja melihat betis istrinya yang cantik luar biasa, tetiba jadi ingin bersenggama dan meminta saat itu juga.

Tetapi Dewi Uma menolak, hal ini dikarenakan itu bukanlah sikap seorang dewata (terburu- buru dan menuruti nafsu) dan dia menjaga harga dirinya sebagai pemimpin kaum bidadari.

Di bagian ini para dalang, dan pencinta wayang mengalami percabangan versi.

Versi pertama,
Dewi Uma menolak dengan sekuat tenaga, tetapi karena sudah terlanjur ingin sekali, mani sang dewa akhirnya menetes ke laut di bawah mereka.

Versi kedua,
mereka akhirnya melakukan persenggamaan tersebut, diatas kerbau.

Sesampainya di Kahyangan Suralaya rumah mereka, pasangan suami istri ini bertengkar hebat hingga berujung saling kutuk.

Perlu diketahui sebagai pemimpin para Bidadari, Dewi Uma juga memiliki kesaktian yg cukup tinggi.

Jika dua orang sakti mengutuk, maka kutukan tersebut akan nyata.

Dewi Uma mengutuk Betara Guru agar tumbuh taring, dan Betara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi Reksasi.

Mereka akhirnya dilerai oleh Batara Narada, kemudian Batara Narada mengatakan bagaimanapun Dewi Uma adalah penduduk kahyangan, tetapi dengan wujud raksasa ini terpaksa Dewi Uma tidak bisa menempati Suralaya.

Batara Narada mempersilahkan Dewi Uma menempati istana Setragandamayit.

Setelah menempati Istana Setragandamayit, Dewi Uma berganti nama menjadi Betari Durga.

Kita kembali ke mani Betara Guru yang menetes ke laut, tetesan mani ini ternyata mewujud menjadi seorang Raksasa.

Raksasa ini datang dan mengobrak abrik kahyangan.

Walaupun berwujud Raksasa, sikap dan keahlian dia adalah selayaknya kesatria.
Para Dewa tak mampu menandingi kesaktiannya.

Para Dewa pun bertanya “Hai, Raksasa ngapain kesini ??”

Raksasa itu menjawab “Bapak mana bapak?”

Lah!? makin bingung para penduduk kahyangan.

Para Dewa tak mampu membendungnya, hingga akhirnya betara Guru turun tangan sendiri.

Dengan suara yg menggelegar namun sopan, raksasa itu bertanya.

“Apakah anda tahu ayah saya? saya tiba-tiba lahir di lautan dan dituntun ke sini.”

Betara Guru pun ingat.

Beliau ingat dengan kesalahan dia terhadap hawa nafsu, dan mengatakan bahwa dia lah ayahnya.

Oleh Betara Guru, Raksasa itu kemudian dididik dan diberi nama Kala, yang artinya Waktu.

Karena tidak ada yang dapat menghentikan Waktu, dan Waktu tidak bisa bergerak mundur. Semua akan mendapat karma melalui Kala, siapapun dia tak peduli manusia bahkan dewa sekalipun.

Pada suatu waktu, Kala meminta satu hal.

Yaitu istri.

Batara Guru sadar bahwa Kala adalah seorang Dewa dan Kesatria yang baik dan sakti mandraguna. Kala bisa memberi manfaat bagi semesta.

Batara Guru juga teringat perlakuannya terhadap Dewi Uma.
hmm maybe she’s deserve better.. Gumam betara Guru.

Secara teknis Dewi Uma bukanlah Ibu Biologis Kala, karena Kala tidak berasal dari sel telur sang Dewi.

Secara sains bisa dikatakan mereka incest jika si anak berasal dari sel telur ibu dan sperma ayah. Sedangkan untuk Kala, dia hanya berasal dari tetesan sperma Betara Guru tanpa melalui proses pembuahan sel telur dari rahim Betari Durga.

Secara harafiah Kala adalah orang lain dan bukan darah daging Betari Durga.

Oleh karena itu, Batara Guru menyuruh Kala pergi ke Istana Setragandamayit. Nanti disana dia akan bertemu calon istrinya.

Seorang wanita yang memiliki kecantikan hati, budi pekerti, kekuatan tekad, dan kekuatan fisik yang sama seperti Kala.

Batara Guru menjodohkan Betari Durga dengan Betara Kala.
Dari sinilah asal mula Ruang dan Waktu bertemu. Durga dan Kala.

Dari pernikahan mereka lahirlah Dewasrani.

Dewasrani adalah simbol dari dimensi yang tercipta akibat bersatunya ruang dan waktu,

Secara karakter dia mewakili konsep multiverse.

Salah satu kemampuan dewasrani adalah berganti-ganti rupa.

Di dalam konsep multiverse, orang yang sama di dimensi yang berbeda bisa memiliki wujud serta nasib yang berbeda.

Yang bisa mengendalikan Dewasrani agar tidak berulah ( yang bisa menjaga stabilitas antar dimensi / universe) hanya Ibunya, sang Betari Durga.

Selain mampu berganti-ganti rupa, Dewasrani memiliki sifat licik dan usil.

Hmm..
terdengar tidak asing?

Sumber: IG @OfficialLOKI

Pamungkas kata dari saya, bahwa gonjang ganjingnya jagat semesta serta analogi-analogi kejadian kosmos atau disebut sebagai MULTIVERSE OF MADNESS. Sejak zaman dahulu, ini sudah masuk ke dalam imajinasi para budayawan kita yang diterjemahkan dalam wujud pewayangan.

Khazanah budaya asli kita tidak kalah dengan budaya pop culture modern seperti sekarang.

Tulisan ini saya kembangkan dari utas (thread) saya di twitter pada tanggal 26 Februari 2022 lalu. Bahasa dan cerita saya permudah dan sederhanakan agar pecinta pop culture modern juga bisa relate dengan sudut pandang cerita Wayang dan mitologinya.

Untuk menuju ke utas tersebut bisa diakses di “Multiverse of Madness : Betara Kala, Dewi Uma/ Betari Durga dan Dewasrani”.

Salam Memayu Hayuning Bhawana,

Yuk bagi Artikel ini biar makin banyak yang kenal Budaya kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *